Mereka : Rachelia - Sesaat Pintar

Sunday, April 14, 2019

Mereka : Rachelia


Mereka : Rachelia

Pada ulang tahun ku yang ke 13, itu lah awal mula ku merasa kesepian. Tidak memiliki teman seperti kebanyakan orang, yang bisa bermain dengan temannya, ataupun sekedar berkumpul penuh dengan candaan.
Aku di kucilkan, bahkan dianggap gila oleh banyak orang, karna tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan. Bahkan sempat berkata bahwa aku adalah anak kutukan. Ya bagaimana pun, itulah fase, semua ada masanya aku di perlakukan seperti itu.
Di umurku yang ke 13 ini, aku berdoa untuk di berikan sebuah teman bermain, laki-laki ataupun perempuan, asalkan dia bisa aku ajak untuk berbicara.

Di pukul 8 malam ketika aku sedang duduk menghadap jendela kamar, aku terus berharap bahwa ada orang yang datang untuk mengajak ku berbicara. Dan ternyata malam itu, harapanku tidak terkabulkan.

Keesokan harinya seperti biasa aku pulang sekolah sendirian melewati banyak rumah kosong yang belum sempat di huni, ya namanya juga perumahan baru.
Namun ada satu rumah saat itu yang sepertinya ingin di renofasi terlihat dari bahan-bahan bangunan di depan rumah tersebut. Namun ada hal yang menarik disana, terdapat anak perempuan berambut pirang yang seketika menoleh kearah ku.
Dia tersenyum namun seperti menunjukan ekspresi sedih.

Aku coba menghampirinya dan bertanya kenapa ia bersedih, namun lagi-lagi ada orang yang dengan seketika mengatakan bahwa aku ini gila. Aku menoleh kebelakang yang mengatakan itu, namun ketika aku menoleh kedepan, perempuan tadi dengan cepatnya menghilang, lalu aku menghiraukan itu semua, berusaha menutup telinga dan menganggap bahwa semua itu tidak pernah terjadi.
Dimalam harinya ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolah dikamar, tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kamarku. Aku coba menoleh keluar dari balik tirai, namun nyatanya tidak ada siapapun di luar. Aku pikir pertama kali, itu hanyalah anak kecil yang usil, ya kebanyakan anak kecil didekat rumah ku ramai ketika malam hari ketimbang pagi ataupun sore.

Namun nyatanya hingga tiga kali terjadi hal yang sama dan tidak ada siapapun di luar sana, dan akhirnya ketika aku mengucapkan “BIla kamu orang yang tadi, silahkan datang. Aku tau kamu hantu dan ingin berkomunikasi. Silahkan datang, aku mengizinkan. “
Namun lagi dan lagi tidak ada siapapun yang datang malam itu. Dan aku pun segera pergi tidur.

Malam itu aku di datangngi seseorang di dalam mimpi, bukan perempuan tadi, melainkan seorang kakek-kakek yang memakai seragam layaknya seorang peteran. Ia berpesan “Cobaan hidup tetap cobaan. Tidak bisa di tentukan, dan tidak bisa di wujudkan. Selagi kita msih hidupm semua itu akan terus berjalan.”

Aku tidak faham  dengan apa yang sebenarnya ia ucapkan, dan seketika terbangun karena tanganku seperti ada yang mencubit dengan keras.
Aku terbangun, dan ternayata terdapat perempuan yang tadi aku jumpai di rumah kosong. Aku bertanya kepadanya kenapa ada di sini, namun dia tidak pernah menjawab satu pertanyaannya. Sampai pada akhirnya, ia mengambil sebuah pulpen dan menulis di sebuah kertas dengan tulisan,

“Maaf aku ga bisa bicara, mungkin lewat kertas ini kita bisa berkomunikasi dengan baik. “
Membaca tulisan tangannya, sontak aku terkejut, aku baru tau kalau dia tidak bisa bicara, namun ada keistimewaan dengannya. Ia mampu berbicara lewat pikirannya, terkadang kami berkomunikasi hanya dengan berbicara melalui pikiran.
Di malam itu aku bertanya banyak hal, terutama apa yang menyebabkan ia meninggal, sakit kah? Kecelakaan kah? Atau menyumbangkan diri kepada alam?


Namun suatu  hal yang membuat aku terkejut adalah, ia merupakan anak yang tidak memiliki orang tua. Sebelum ajal menjemputnya, ia sempat di siksa dengan cara di pukul oleh orang yang mengasuhnya, beberapa kali sempat di tendang, dan ketika ia sudah tak kuat untuk berdiri akhirnya ia di kurung di dalam gudang selama semalam tanpa minum dan juga makan.

Ia kedinginan di dalam gudang yang gelap, merasa ketakutan, haus dan juga kelaparan di sana, ia berusaha berteriak, namun ia tidak bisa, yang hanya bisa ia lakukan hanyalah berdoa, harap-harap ada yang baik hati menolongnya.
Benar saja ia di tolong oleh seorang remaja pribumi, remaja tersebut menggendongnya, namun tiba-tiba remaja itu tak kuasa menahan dirinya dan terjatuh. Ternyata remaja tersebut di pukul sangat keras dari belakang, dan ketika ia sudah tersungkur di tanah, sebuah bilah berkilau  nan tajam menusuk matanya, kemudian lehernya.

Ia sangat ketakutan, namun tak ada yang bisa ia lakukan, ia memejamkan matanya, namun seketika semua yang ia lihat mulai menghitam dengan perlahan, serta apa yang ia dengar mulai menghilang.
Itulah kematiannya, dan juga orang pribumi yang berusaha menolongnya, dan kini mereka hanyalah jadi penghuni tak terlihat oleh orang-orang yang lewat di sekitarnya.

TAMAT.


Disqus comments