Mereka : Catatan Terakhir - Sesaat Pintar

Tuesday, March 12, 2019

Mereka : Catatan Terakhir


Fana? Dunia ini katanya. Penuh dengan kebohongan, kebencian, celaan, dan keburukan lainnya.
Perbedaan, tak habis dijadikan bahan pembicaraan, sedangkanTuhan menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi. Namun di balik itu semua, apapun yang kita lihat, ada yang tampak dalam kedipan mata ataupun kebalikannya.

Aku salah satu orang yang beruntung memiliki kelebihan yang tidak semua orang miliki, katanya. Namun aku sendiri beranggapan ini adalah kutukan, kutakan yang menimpa seorang anak berusia 16 tahun.

Indigo? Apa itu? Orang bilang itu adalah sebuah kemampuan spesial! Tapi bagi ku itu tidaklah benar, justru aku benci mendengar kata tersebut.
Mengeluh? Sudah sering ku lakukan itu, tapi nyatanya, keluhan tidak dapat mengubah keadaan.

Namaku Yudi Astira, aku bisa melihat mereka, yang aku anggap teman, namun tidak terlihat oleh banyak orang. Kita berbeda, iya mungkin, alam kita pun berbeda, tetapi mengapa aku bisa melihat mereka?
Aku tidak pernah menyesal memiliki kemampuan ini, tetapi aku takut bisa pada masanya aku harus ikut menjadi bagian dari mereka.


26 Juni 2011

Kala itu aku berlibur kepantai, bersama keluarga dan juga saudara. Mengejar kepiting dan juga bermain pasir. Aku tudak suka dengan air laut, aku takut dengan ombak, maka tak heran aku hanya bermain di tepi pantai.

Sepupuku bernama Anna, dibandingkan dengan yang lainnya, hanya dia lah yang ingin berkomunikasi dengan ku, banyak hal yang sering kami bicarakan berdua. Dan aku bersyukur, karna ia tak bosannya mendengar cerita ku yang penuh dengan makhluk tak berwujud jelas.

"Kira-kira, kamu bisa ga ngebedain hantu sama manusia di pantai ini?! " Cetus Anna.

"Ya mungkin aja bisa. " Balasnya tak yakin.

"Ko gitu? " Cicitnya.

"Ya habisnya mau gimana lagi? Rame, kecuali kita kekuburan, rame juga bisa keliat mana hantu sama orang yang sedang ziarah " Jelasnya.

"Iya juga ya! " Cicitnya, "Pulang nanti kira-kira kamu bakal liat apa? " Sambung Anna.

"Liat jalan dan juga kendaraan! " Balasnya sembari menjulurkan lidahnya.

"Ih tengil ya! " Anna geram dan melempar pasir yang ada di kepalannya ke arah wajah Yudi, namun dengan sigap Yudi menutup wajahnya lalu melempar balik kemudian lari menjauhi Anna.

Dua jam berlalu, dan kini pantai di penuhi oleh orang-orang yang ingin melihat keindahan alam ketika senja mulai tiba, menyaksikan tenggelamnya sang penerang bumi, dan berganti menjadi malam.

Pukul 7 malam, setah usai kami makan, kami bergegas memasuki mobil masing-masing keluarga, kecuali aku.

Yudi ikut dalam mobil keluarga Anna, dan mereka tidak ada rasa keberatan sama sekali. Awal perjalanan Yudi merasa biasa saja, sampai pada akhir nya, di pukul 9 malam, Yudi mulai merasa gelisah, ia menceritakan kepada Anna, namun 20 menit setelah ia bercerita. Ledakan terdengar dua kali pada ban bagian belakang masing-nasing mobil, lalu mereka semua menepi.

Setelah dicek keadaannya, ternyata ledakan berasa dari ban mobil yang pecah. Semua orang di dalam mobil keluar, namun seketika ibu Anna kepalanya tejatuh. Sontak orang-orang di sekelilingnya terjekut, darah berjatuhan kemana-mana.

Kaki Yudi bergetar, dan kejadian yang sama menimpa ayah Yudi, terdengar suara jeritan ketakutan berasal dari ibu Yudi, namun jeritan itu menghilang seketika.

Yang tersisa hanya Yudi dan juga Anna, mereka kebingungan dan juga ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Anna menoleh ke arah Yudi lalu mengatakan, "Kayanya ga lama lagi kita bakal jadi bagiannya! "

Tak lama dari ucapan itu, Anna terjatuh, Yudi melihat ke arahnya, ternyata terdapat benda tajam menempus dadanya. Yudi tidak habis pikir, hanya ia yang tersisa. Yudi menoleh ke arah belakang, namun seketika, besi tajam menembus lehernya.

Itulah akhir dari seorang anak Indigo, yang takut bila ia menjadi salah satu bagian dari kehidupan alam lain, namun takdir tidak ada yang tau, kapan dan bagai mana kita kembali kepadanya, sang pencipta.




Tamat
Disqus comments